Minggu, 06 November 2011

Bidan di Tengah Arus MDGs




Bidan di Tengah Arus MDGs
(Menyambut Hari Bidan Indonesia 24 Juni 2011)

Oleh Ayu Bella Fauziah
Bidan Puskesmas Panaikang

     Pekerjaan bidan merupakan profesi yang memacu tekanan adrenalin sampai membuncah. Sebagaimana jurnalis, maka, bidan pun tak mengenal jam kerja. Terkadang di tengah malam dibangunkan demi memenuhi panggilan tugas. Tubuh masih ingin lelap, tiba-tiba diminta memeriksa pasien hamil yang sakit ringan. Badan masih terhuyung-huyung, mendadak harus membantu kaum ibu melahirkan.
     Bidan yang mengabdi sebagai tenaga sukarela lebih parah lagi. Sebab, gajinya belum ada. Hingga, mereka biasa berjalan kaki guna mengirit ongkos. Peralatannya mesti siaga kapan pun serta di mana saja. Ia harus menyiapkan stetoskop, dopler (alat pendeteksi detak jantung janin), obat-obatan maupun vaksin untuk imunisasi dalam termos es.
     Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bidan di Puskesmas antara lain melaksanakan asuhan kebidanan kepada ibu hamil (ante natal care). Kemudian melakukan asuhan persalinan fisiologis kepada ibu bersalin (post natal care). Bidan pun berperan penting memberi pelayanan pasca kelahiran. Mereka boleh dikata meminimalisasi kematian bayi.
     Tupoksi bidan juga mencakup penyelenggaraan pelayanan terhadap bayi baru lahir (kunjungan neonatal). Bidan pun diimbau memberikan edukasi lewat penyuluhan kesehatan reproduksi serta kebidanan. Tugas bidan selanjutnya ialah memberi pelayanan Keluarga Berencana (KB) kepada wanita usia subur (WUS). Selain itu, melakukan pelacakan sekaligus pelayanan rujukan kepada ibu hamil resiko tinggi (bumil risti).
     Dalam keseharian kehidupan, terdapat dua bidan. Pertama, bidan tarik yaitu bidan yang dipanggil tatkala seorang ibu akan melahirkan. Kedua, bidan tempah yakni bidan yang sudah dipesan sebelumnya oleh ibu yang bakal melahirkan. Di samping itu, tiap bidan punya tugas pokok selaku bidan koordinator, bidan desa (kelurahan) atau bidan klinik Puskemas.
     Sebagai bagian dari petugas pelayanan Puskesmas, maka, bidan berperan dalam program kesehatan ibu dan anak (KIA). Mereka dituntut memberikan pelayanan optimal. Elemen tersebut menandaskan bila bidan mesti didelimakan.
     Bidan Delima merupakan tombak dalam meningkatkan kualitas pelayanan bidan praktek swasta (BPS). Mereka menjadi pelaksana rencana kerja Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dalam pelayanan kebidanan. Bidan Delima menjadi standar dalam mengevaluasi pelayanan kebidanan di BPS. Walhasil, meningkatkan citra IBI.

Bidan Desa
     Target Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs) bertemali dengan posisi bidan. Pasalnya, MDGs menghendaki pengentasan kemiskinan. Sasaran 2015 adalah mengurangi setengah jumlah penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari satu dollar AS. Kelaparan harus pula diatasi agar masyarakat gurem bisa merasakan kelegaan menikmati target milenium.
     Dewasa ini, Pemerintah berikhtiar gigih dalam penanggulangan kemiskinan. Mereka menjalankan pelbagai kegiatan lewat klaster berbasis keluarga serta klaster pemberdayaan masyarakat. Selain itu, melaksanakan klaster pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dalam menunjang pencapaian MDGs, maka, selama lima tahun sampai 2015, Pemerintah Indonesia akan mengucurkan dana Rp 100 triliun untuk pemberdayaan UMKM.
     Kalau MDGs berhasil mengurangi jumlah penduduk melarat, berarti nasib mujur bagi bidan. Maklum, kesejahteraan mereka pun dapat meningkat. Selama ini, banyak bidan yang tekor. Sebagai lokomotif pelayanan kesehatan ibu berikut balita di pedesaan, bidan ternyata hanya bergaji sekitar Rp 1 juta. Gaji tersebut sebagian habis buat biaya operasional.
     Bidan kerap merogoh kocek jika menangani rakyat miskin. Sebagai tamsil, biaya persalinan normal yang ditangani bidan desa berkisar Rp 200 ribu-Rp 250 ribu. Di daerah pedalaman dengan penduduk kelas menengah ke bawah, maka, biaya itu sering diangsur beberapa kali. Warga cuma membayar sesuai kesanggupannya. Bahkan, ada yang tidak mampu membayar.
     Program MDGs jelas kabar gembira bagi semua pihak, termasuk bidan. Bila sasaran milenium tersebut tercapai, berarti bidan kecipratan rezeki. Minimal para ibu yang melahirkan di desa tak lagi menunggak membayar ongkos persalinan.
     MDGs bertaut-erat dengan bidan. Soalnya, program itu melampirkan gagasan pengurangan tingkat kematian anak. Target 2015 ialah mengurangi dua per tiga kematian anak-anak umur di bawah lima tahun.
     Program MDGs juga menginginkan peningkatan kesehatan ibu. Sasaran 2015 yaitu mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan. MDGs bertumpu pada bidan karena pembangunan milenium dikaitkan dengan kehidupan ibu dengan anak. Bidan merupakan sosok yang berjasa meningkatkan kesehatan ibu hamil, proses kelahiran serta perawatan bayi baru lahir.

Bidan Delima
     Program MDGs menunjukkan kalau profesi bidan mutlak menyukseskan target-target yang hendak digapai. Dari delapan Sasaran Pembangunan Milenium, dua di antaranya berkelindan dengan eksistensi bidan. Pengurangan tingkat kematian anak dan peningkatan kesehatan ibu tentu berada dalam naungan bidan.
     Korelasi MDGs dengan bidan menegaskan bahwa pemerintah mesti segera merestorasi kesejahteraan bidan. Para bidan di daerah terpencil harus ditopang dengan anggaran. Sebab, di distrik tanpa akses kesehatan yang memenuhi syarat, bidan acap menempuh medan sulit serta berbahaya. Akibatnya, ada bidan yang keguguran saat bertugas membantu persalinan.
     Pemerintah diimbau pula merenovasi Polindes (pondok bersalin desa) dan Posyandu (pos pelayanan terpadu). Pasalnya, di sinilah markas komando bidan untuk memberi pelayanan. Kondisi buruk Polindes serta Posyandu jelas menghambat kinerja bidan. Arkian, fasilitas dan profesionalisme bidan pantas diprioritaskan. Maklum, mereka merupakan sumbu awal guna memacu pencapaian target MDGs.
     Kunci kesuksesan MDGs terletak pada keuletan berupaya secara maksimal di tempat kerja yang memadai. Dengan demikian, profesionalisme bidan mesti ditingkatkan dengan cara mereformasi fasilitas tempat kerjanya. Hatta, tercapai hasil optimal.
     Bidan Delima sebagai program IBI patut dijalankan demi meningkatkan mutu pelayanan kesehatan reproduksi yang berstandar. Prinsip program Bidan Delima yakni standarisasi pelayanan BPS. Aspek tersebut mencakup keahlian, kompetensi, sarana, prasarana serta manajemen yang selaras standar Kementerian Kesehatan. Dengan kualifikasi Bidan Delima, berarti mereka sanggup meningkatkan kualitas layanan kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana.
     Siapa saja pasti berharap MDGs sukses serta jaya. Hingga, bidan pun kian menempati posisi terhormat sebagai petugas kesehatan ibu hamil dan balita. Apalagi, mereka tidak sekedar menangani proses persalinan, namun, bertanggung jawab terhadap derajat kesehatan ibu serta anak.
     Di Hari Bidan Indonesia pada 24 Juni 2011 ini, kita mendambakan makin banyak Bidan Delima, bidan profesional yang ikhlas tanpa pamrih. Mereka merupakan figur yang gesit memberi pelayanan berkualitas. Selamat Ulang Tahun para bidan di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar